DAILYENERGI.COM — US-ASEAN Business Council (USABC) meminta pemerintah Indonesia menerima pemenuhan standar internasional sebagai bagian dari persyaratan produk, guna mempercepat masuknya inovasi ke pasar dalam negeri. Usulan itu disampaikan Executive Vice President of Research and Chief Policy Officer USABC Marc Mealy di Jakarta, Rabu, dengan alasan proses regulasi yang berulang membebani perusahaan dari sisi waktu dan biaya.
Mealy menilai sejumlah sektor di Indonesia masih menerapkan proses persetujuan yang lebih rumit dibandingkan negara ASEAN lain. Ia membandingkannya dengan negara tetangga yang menerima produk berstandar internasional tanpa harus melewati seluruh tahapan regulasi dari awal.
Menurut dia, perusahaan yang produknya sudah lolos persyaratan regulasi di Amerika Serikat atau negara ASEAN lain layak dipertimbangkan memperoleh pengakuan di Indonesia. Pendekatan itu disebut dapat memangkas duplikasi proses pemenuhan standar.
Beban Ganda Standar Internasional dan Standar Nasional
Mealy menyoroti praktik yang menurutnya memperlambat masuknya teknologi baru. Perusahaan dinilai harus menempuh dua kali proses pengujian meski produknya sudah memenuhi standar internasional.
"Anda memenuhi standar internasional, tetapi kemudian harus melalui seluruh proses lagi untuk memenuhi standar Indonesia. Itu jelas membutuhkan lebih banyak waktu dan terkadang lebih banyak sumber daya," ujarnya.
Ia menegaskan sikap USABC bahwa pemenuhan standar internasional semestinya bisa diakui setara dengan standar Indonesia. "Jika produk tersebut memenuhi standar internasional, mengapa tidak menerimanya bahwa produk tersebut juga memenuhi standar Indonesia?" kata Mealy.
Sektor yang Dinilai Paling Menantang
USABC menyebut sejumlah sektor masih tergolong sulit bagi produk dan teknologi baru untuk masuk. Mealy tidak merinci daftar sektornya, tetapi menyatakan isu ini sudah dibahas dengan pemerintah Indonesia di beberapa bidang.
Menurut dia, regulasi yang lebih efisien berdampak langsung pada daya saing Indonesia. Proses yang lebih singkat disebut memberi ruang lebih besar bagi pengembangan inovasi di dalam negeri.
Laporan BISA 2026 dan Angka Investasi AS
Dalam kesempatan yang sama, USABC meluncurkan laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026. Laporan itu mencatat realisasi investasi perusahaan Amerika Serikat di Indonesia sepanjang 2020 hingga semester I 2025 mencapai 14,85 miliar dolar AS.
Sementara komitmen investasi perusahaan AS di Indonesia pada periode 2020 hingga Januari 2026 tercatat sekitar 22,84 miliar dolar AS. Laporan tersebut juga mengidentifikasi 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026.
Nilai moneter dari inisiatif itu mencapai sekitar 24,8 miliar dolar AS, mencakup investasi, pendanaan program, hibah, dan nilai produksi. Sektor yang tercakup meliputi teknologi digital dan keamanan siber, energi, pertambangan dan migas, pertanian, serta jasa keuangan dan fintech.
Dampak bagi Pelaku Usaha dan Konsumen
Jika usulan USABC diadopsi, waktu tunggu produk teknologi masuk ke pasar Indonesia berpotensi lebih pendek. Konsumen disebut bisa lebih cepat mengakses perangkat dan layanan yang sudah beredar di pasar global.
Namun, penerimaan standar internasional secara otomatis menyentuh kewenangan regulator sektor seperti Kementerian Perindustrian, Kominfo, dan BPOM. Sampai kini belum ada pernyataan resmi pemerintah atas usulan tersebut.
USABC menempatkan efisiensi regulasi sebagai salah satu faktor penentu keputusan investasi anggotanya di Indonesia. Pembahasan lanjutan dengan kementerian terkait diperkirakan berlanjut sepanjang 2026.